Macam Macam batik Indonesia

Batik Modern

Desain baju batik saat ini terus mengalami perkembangan dibanding zaman dahulu di era 90-an yang coraknya menurut orang-orang zaman sekarang dianggap sudah terlalu kuno. Kain batik yang dulunya dianggap hanya untuk orang-orang dewasa, saat ini terus mengalami kemajuan. Apalagi selama beberapa tahun terakhir banyak sekali perusahaan-perusahaan yang mewajibkan karyawannya untuk memakai baju batik meskipun hanya sehari dalam seminggu. Begitu juga kantor-kantor pemerintahan yang saat ini telah mewajibkan kepada para pegawainya untuk mengenakan baju batik pada hari Jum’at.

Model baju batik yang banyak beredar saat ini juga akhirnya membawa anak-anak muda yang dulunya malu kalau memakai baju batik karena takut kelihatan tua, akhir-akhir ini mereka sudah tidak malu-malu menggunakan baju batik. Bahkan saat ini dikalangan anak muda, kalau dianggap memakai baju batik mempunyai prestise tersendiri.

Dibawah ini Anda dapat melihat sendiri berbagai desain baju batik terbaru yang diantaranya adalah : baju batik pekalongan, bolero batik, design baju batik, desain batik modern, baju batik sarimbit, batik wallpaper desktop, baju batik solo modern, model baju kerja batik, gamis batik modern, batik sarimbit modern, kemeja batik pria, baju batik bandung, model gaun batik, model batik muslim, dan desain sandal batik terbaru.

baju batik jogja untuk wanita terbaru 197x300 Design Baju Batik Terbaru 2012

Macam Macam batik Indonesia

Corak dan motif batik Indonesia sendiri sangat banyak, ada yang merupakan motif asli dari nenek moyang bangsa kita dan ada juga yang merupakan akulturasi dengan bangsa lain.

Di bawah ini merupakan macam-macam batik yang terdapat di Indonesia:

1. Batik Kraton
batik-kraton
Batik Kraton awal mula dari semua jenis batik yang berkembang di Indonesia. Motifnya mengandung makna filosofi hidup.
Batik-batik ini dibuat oleh para putri kraton dan juga pembatik-pembatik ahli yang hidup di lingkungan kraton.

Pada dasarnya motifnya terlarang untuk digunakan oleh orang “biasa” seperti motif Parang Barong, Parang Rusak termasuk Udan Liris, dan beberapa motif lainnya.

2. Batik Sudagaran
batik-sudagaran
Motif larangan dari kalangan keraton merangsang seniman dari kaum saudagar untuk menciptakan motif baru yang sesuai selera masyarakat saudagar.

Mereka juga mengubah motif larangan sehingga motif tersebut dapat dipakai masyarakat umum. Desain batik Sudagaran umumnya terkesan “berani” dalam pemilihan bentuk, stilisasi atas benda-benda alam atau satwa, maupun kombinasi warna yang didominasi warna soga dan biru tua.

Batik Sudagaran menyajikan kualitas dalam proses pengerjaan serta kerumitan dalam menyajikan ragam hias yang baru. Pencipta batik Sudagaran mengubah batik keraton dengan isen-isen yang rumit dan mengisinya dengan cecek (bintik) sehingga tercipta batik yang amat indah.

3. Batik Petani
batik-petani
Batik yang dibuat sebagai selingan kegiatan ibu rumah tangga di rumah di kala tidak pergi ke sawah atau saat waktu senggang. Biasanya batik ini kasar dan kagok serta tidak halus.

Motifnya turun temurun sesuai daerah masing-masing dan batik ini dikerjakan secara tidak profesional karena hanya sebagai sambilan. Untuk pewarnaan pun diikutkan ke saudagar.

4. Batik Belanda
batik-belanda
Warga keturunan Belanda banyak yang tertarik dengan batik Indonesia. Mereka membuat motif sendiri yang disukai bangsa Eropa.

Motifnya berupa bunga-bunga Eropa, seperti tulip dan motif tokoh-tokoh cerita dongeng terkenal di sana.

5. Batik Jawa Hokokai
batik-jawa-hokokai
Pada masa penjajahan Jepang di pesisir Utara Jawa lahir ragam batik tulis yang disebut batik Hokokai. Motif dominan adalah bunga seperti bunga sakura dan krisan.

Hampir semua batik Jawa Hokokai memakai latar belakang (isen-isen) yang sangat detail seperti motif parang dan kawung di bagian tengah dan tepiannya masih diisi lagi, misalnya motif bunga padi.

Contoh Batik Tiap Daerah Di Indonesia :

1. Batik Yogyakarta
batik-yogyakarta

2. Batik Solo
batik-solo

3. Batik Banyumas
batik-banyumas

4. Batik Purwokerto
batik-purwokerto

5. Batik Pekalongan
batik-pekalongan

6. Batik Cirebon
batik-cirebon
Kota Cirebon dikenal dengan kerajinan batik tulisnya dengan salah satu motif yang paling dikenal adalah motif mega mendung. kain batik tulis ini sangat cocok digunakan sebagai suvernir maupun di pakai secara langsung sebagai busana

7. Batik Betawi
batik-betawi

8. Batik Madura
batik-madura

9. Batik Kalimantan
batik-kalimantan
Sebenernya ini bukan batik tapi coraknya bisa dibilang mirip batik lah. Di Kalimantan ga ada batik, namanya Kain Sasirangan (Prosesnya Penyelupan kain ke campuran warna)

Jelas itu tidak sama sekali dengan Batik yang notabene di canting yang terisi oleh lilin ..

10. Batik Papua
batik-papua

11. Batik Padang
batik-padang

12. Batik Aceh
batik-aceh

13. Batik Bengkulu
batik-bengkulu

14. Batik Bali
batik-bali

15. Batik lampung
batik-lampung

16. Batik Toraja
batik-toraja

17. Batik Palembang
batik-palembang

18. Batik Jambi
batik-jambi

19. Batik Indramayu
batik-indramayu

20. Batik Bojonegoro
batik-bojonegoro
Sejak lama Bojonegoro sangat kaya dengan motif batik. Beberapa motif di antaranya siap dipatenkan.

Motif batik asli Bojonegoro, mengambil tema dari budaya lokal yang cukup arif dan potensi Bojonegoro yang cukup terkenal.

Di antaranya motif Mliwis Putih, Sapi, Jagung, Kahyangan Api, Tembakau, Minyak, Wayang Tengul, Padi dan motif batik Jati. Hingga saat ini pasar produksi batik tersebut kini telah sampai di Singapura.

21. Batik Purbalingga
batik-purbalingga
Sekilas memang mirip batik dari Banyumas, karena Purbalingga memang pernah saru karisidenan dengan Banyumas.
Buat yang ngga tahu di mana itu Purbalingga, Purbalingga terletak di provinsi Jawa Tengah.

Diebelah selatan dan barat berbatasan dengan Kabupaten Banyumas (Purwokerto).

Sebelah timur dengan Kabupaten Banjarnegara dan sebelah utara dengan Kabupaten Pemalang.

22. Batik Garut
batik-garut

23. Batik Tegal
batik-tegal

Batik When Art Is Fashion

Introduction If you are passionate about textiles with exotic colour and texture the probabilities are very good, you have a special really like for batiks. It is quick to be captivated by these spectacular colour-saturated marvels. Though there always appears to be a spot in a batik lover’s stash for a new “Bali” few of us knows much about the fascinating, time-honoured processes that are employed to make our batik fabrics. In order to discover where the batiks in our local fabric store come from, let’s take a virtual trip into an Indonesian batik factory.
Batik generating is an ancient art for embellishing cloth by way of the use of wax, (or other media that creates resist), and dyes. While batik fabric is produced in India, China, Thailand and in a number of African nations, it is most renowned in Indonesia and Malaysia. In these locations there are two standard processes utilized to produce batik fabric Batik Tulis (hand drawn batik) and Batik Cap (stamped batik). This write-up will concentrate on the production of stamped batik.
Stamping entails the application of molten wax to cloth with the use of a metal or wooden stamp referred to as a cap, (Pronounced Chap). The cap is a cookie cutter-like devise that is developed in the image of the batik motif that it intends to produce. The stamping procedure begins with the preparation of the cloth.
Cloth Preparation and Application of Base Colours Raw fabric must 1st be ready before it can undergo batik production. The prep involves the removal of impurities and starch. Typically this is done by bleaching the fabric just before it arrives at the batik factory. If the base cloth is heavily starched it could be washed to increase the penetration of the dye to those parts of the cloth left un-waxed. Just after fabric prep it’s usually vital to apply base colours to the fabric just before the wax is applied. The base colours fill the surface location inside of the motif positions that are eventually shaped by the wax resist. In circumstances when the base colour has to be applied the fabric is normally placed on the factory floor.
The Application of wax after the base colours have been applied to the prepped fabric, it’s time to apply the wax. Ordinarily the fabric is draped over a padded table which offers the needed give to the pressure of the stamp. Ahead of it is melted; the wax is in the form of blocks. The wax blocks are placed in an open pan known as a Wajan that sits on leading of a tiny barbecue-like stove. The wax is applied to the fabric after it is melted to the proper consistency. The batik artisan dips the stamp into the pan till its surface is covered with molten wax and applies the stamp to the cloth. The artisan must cautiously dovetail the wax impression into the ones that have currently been created to steer clear of unsightly gaps in the repeat of the motif.
Dyeing soon after the wax has been applied, the cloth is ready to be over-dyed. The dyes are colour matched by staff members and then applied in massive cement baths. Places covered by wax will resist the dyes and will make the shapes of the desired motifs. The dyeing method is repeated quite a few times depending upon the colours and complexity of the design. Occasionally a final application of black or other dark colour is made to emphasize the design elements of the pattern.
Removal of the Wax Just after the cloth has been rinsed and dried; the wax is removed entirely by dipping in hot water. The wax is generally saved and re-utilized. The cloth is then washed with a mild detergent, rinsed to eliminate excess dye and hung in the sun to dry. Creases may possibly be removed by an electric press. The fabric is later rolled on tubes and packed for export.
New Frontiers While Indonesian batik-generating has been on-going for centuries it is undergoing a period of dynamic change owing to the wants and creativities of home sewing enthusiasts about the globe. Old batik approaches are given new applications and new base fabrics expand the possible makes use of batik. Western fabric providers now provide 108″-wide batik backing, batik flannel, silk batik and several new thematic groups of stamped batiks and hand-dyed batik. All-in all it’s a thrilling time of renewal for this ancient fabric creating procedure.

Batik Cirebon Batik mega mendung Trusmi Cirebon